Koleksi di perpustakaan akan kelihatan rapi dan mudah untuk ditemukan jika dikelompokkan menurut sistem tertentu. Pengelompokan yang sering digunakan adalah dengan sistem klasifikasi. Dewey Decimal Classificasion (DDC) yang umum digunakan menggunakan sistematika berupa bagan yang berisi pembagian ilmu pengetahuan berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu...
Angka klasifikasi yang terdapat dalam bagan disebut dengan Base Number (BN). Misalnya:
100 Ilmu Filsafat, Psikologi, Parapsikologi, Okultisme
101 Teori Filsafat
102 Aneka Ragam Filsafat
103 Kamus, Ensiklopedi dan Konkordans Filsafat
133.4 Sihir, Demonologi, Guna-guna, Penyembahan Berhala
Indeks relative terdiri dari sejumlah tajuk dengan perincian aspek-aspeknya, yang disusun secara alfabetis dan memberikan petunjuk berupa nomor kelas yang memungkinkan orang untuk menemukan tajuk yang tercantum dalam indek pada bagan dan table-tabel. Indeks digunakan untuk mempermudah pencarian nomor kelas dari suatu subyek. Misalnya:
Asbak 688.4
Bagan T1 -202
California T2 -794
Deklamasi T3 -504
Mafia 364.1
Dalam penggunaannya, Base Number (BN) dapat digabungkan dengan tabel-tebel pembantu. Tabel pembantu berupa notasi khusus yang digunakan untuk menyatakan aspek-aspek tertentu. Notasi-notasi dalam tabel tersebut adalah notasi tetap, tetapi tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus digabungkan dibelakang nomor tertentu dari bagan utama DDC.
1.Penggabungan antara Base Number (BN) dengan Tabel 1 (Sub-divisi Standar)
Ada tiga kemungkinan didalam penggabungan antara Base Number (BN) dengan Tabel Sub-divisi Standar, yaitu:
a. Tertulis
Dalam kategori ini terdapat dua kemungkinan yang mungkin terjadi, yaitu:
1) Rumus Umum Sub-divisi Standar (RUSS)
Sub-divisi Standar (SS) yang digunakan adalah 01-09.
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain kelas:
100 Ilmu filsafat, psikologi, parapsikologi, okultisme
500 Ilmu-ilmu murni
600 Teknologi (Ilmu Terapan)
700 Kesenian dan seni dekorasi
2) Bukan Rumus Umum Sub-divisi Standar (BRUSS)
Sub-divisi standar (SS) yang digunakan adalah 001-009 atau 0001-0009.
Yang termasuk dalam kategori ini antara lain kelas:
200 Agama
330 Ilmu Ekonomi
530 Fisika
b. Perintah
Semua yang digolongkan dalam kategori ini ditandai dengan adanya perintah dengan ciri penggunaan kata perintah “Use, Gunakan, atau Pakailah”.
Misalnya pada kelas 380 (Perdagangan, komunikasi, pengangkutan) ditemukan perintah “Gunakan 380.01-380.09 untuk sub-divisi standar”. Maka dalam penggunaanya digunakan nomor sub-divisi standar dari 001 sampai 009.
c. Kosongan
Semua nomor kelas yang tidak termasuk kategori “Tertulis atau Perintah” dimasukkan ke dalam kategori “kosongan”.
2. Penggabungan Antara Base Number (BN) dengan Tabel 2 (Wilayah)
Ada tiga kemungkinan didalam penggabungan antara Base Number (BN) dengan Tabel Wilayah (W), yaitu:
a. Perintah
Jika dalam bagan ditemukan adanya perintah penggunaan notasi wilayah maka digunakan rumus umum:
BN + W
b. Kosongan
Jika dalam bagan tidak ditemukan adanya perintah penggunaan notasi wilayah maka digunakan rumus umum:
BN + SS + W
Dengan SS adalah angka 09; 009; atau 0009.
c. Khusus
Semua kelas yang termasuk dalam kategori ini menggunakan rumus umum:
BN + 9 + W
Misalnya kelas 362 (Masalah-masalah Kesejahteraan sosial), 364 (Kriminologi), 365 (Penjara), 368 (asuransi) dan lain sebagainya.
Selain tiga kemungkinan diatas masih ada dua kemungkinan lain yang berhubungan dengan penggunaan notasi wilayah.
Ø Jika SS yang digunakan selain 09 atau 009 atau 0009 (misalnya 01, 03, 05, dan lain sebagainya) maka sebelum wilayah disisipkan angka 0.
Ø Jika terdapat penggabungan antara dua wilayah maka diantara dua wilayah tersebut ditambah angka 0.
3. Penggabungan Base Number (BN) kelas 800 dengan Tabel 3 (Sub-divisi Dari Masing-masing Kesusastraan)
Rumus umum yang digunakan dalam penggabungan antara BN kelas 800 dengan tabel sub-divisi dari masing-masing kesusastraan (SK) adalah:
BN + SK
Selain rumus diatas, dalam penggunaanya ada dua ketentuan lain yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Jika dalam penggunaanya tidak ditemukan adanya sub-divisi kesusastraan (SK), maka digunakan Sub-divisi standar (SS) sebagai pengganti.
b. Jika dalam penggunaannya ditemukan adanya sub-divisi standar (SS) maupun sub-divisi kesusastraan (SK), maka diutamakan penggunaan sub-divisi kesusastraan (SK).
4. Penggabungan Base Number (BN) kelas 400 dengan Tabel 4 (Sub-divisi Dari Masing-masing Bahasa)
Rumus umum yang digunakan dalam penggabungan antara BN kelas 400 dengan tabel sub-divisi dari masing-masing bahasa (SB) adalah:
BN + SB
Selain rumus diatas dalam penggunaanya ada dua ketentuan lain yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Jika dalam penggunaanya tidak ditemukan adanya sub-divisi bahasa (SB), maka digunakan Sub-divisi standar (SS) sebagai pengganti.
b. Jika dalam penggunaanya ditemukan adanya sub-divisi bahasa (SB) maupun sub-divisi standar (SS), maka diutamakan penggunaan Sub-divisi bahasa (SB).
5. Penggunaan Tabel 5 (Ras, Bangsa, Kelompok Etnis)
Dalam penggabungan antara Base Number (BN) dengan table 5 jika tidak ditemukan adanya perintah penggunaan tabel 5 pada bagan maka ditambah angka 089. Misalnya pada kelas 155.8 (Psikologi Bangsa dan Nasional) pada buku Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey tidak ditemukan adanya perintah penggunaan tabel 5, maka nomor klasifikasinya disisipi angka 089.
Namun jika pada bagan ditemukan adanya perintah penggunaan tabel 5, maka nomor klasifikasinya tidak disisipi angka 089. Misalnya pada nomor kelas 155.89 (Psikologi Bangsa) pada buku DDC.
6. Penggunaan Tabel 6 (Bahasa-bahasa)
Tabel 6 (Bahasa-bahasa) digunakan pada penggabungan Kamus Dua Bahasa.
Rumus umum yang digunakan adalah:
BN + SB + T6
7. Sejarah dan geografi
a. SEJARAH
Rumus umum: 9 + W
b. GEOGRAFI
Rumus umum: 91 + W
SUMBER:
Referensi Kuliah Mas Ari (Thanks y mas...)

